Kebijakan Penggunaan Kecerdasan Buatan

GOLPAK: Jurnal Pendidikan Agama Kristen mendukung penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bertanggung jawab, transparan, etis, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kegiatan penelitian, pembelajaran, analisis, serta penulisan ilmiah.

Kebijakan ini berlaku bagi penulis, reviewer/Mitra Bestari, editor, dan Dewan Editorial GOLPAK dalam penggunaan perangkat berbasis AI, termasuk generative AI, large language models, alat bantu penulisan, penerjemahan, transkripsi, analisis data, pembuatan materi pembelajaran, dan teknologi otomatis lainnya.

1. Prinsip Umum

AI harus digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti tanggung jawab akademik manusia.

Penulis, reviewer, dan editor tetap bertanggung jawab penuh terhadap:

  • keakuratan informasi;
  • orisinalitas karya;
  • validitas data;
  • ketepatan interpretasi;
  • kebenaran referensi;
  • integritas penelitian;
  • perlindungan data peserta;
  • kepatuhan terhadap etika penelitian; dan
  • seluruh keputusan ilmiah dan editorial.

2. AI Tidak Dapat Dicantumkan sebagai Penulis

Sistem atau perangkat AI tidak dapat dicantumkan sebagai penulis atau co-author.

Kepengarangan hanya diberikan kepada individu yang mampu:

  • bertanggung jawab atas isi artikel;
  • menyetujui versi akhir naskah;
  • menjawab pertanyaan mengenai integritas penelitian; dan
  • mempertanggungjawabkan karya secara akademik dan etis.

3. Penggunaan AI oleh Penulis

Penulis diperbolehkan menggunakan AI untuk membantu:

  • pemeriksaan tata bahasa;
  • penyuntingan keterbacaan;
  • penerjemahan;
  • transkripsi;
  • analisis data;
  • pembuatan kode atau skrip;
  • penyusunan visualisasi;
  • pengembangan media pembelajaran;
  • eksplorasi literatur; atau
  • kegiatan teknis lain yang relevan.

Namun, seluruh keluaran AI harus diperiksa, diverifikasi, dan disunting oleh penulis.

Penulis tetap bertanggung jawab penuh terhadap isi artikel, meskipun sebagian proses penelitian atau penulisannya dibantu oleh AI.

4. Kewajiban Pengungkapan

Apabila AI digunakan secara substansial dalam penelitian atau penulisan, penggunaannya harus diungkapkan secara transparan.

Pengungkapan dapat menjelaskan:

  • nama alat atau sistem AI;
  • fungsi yang digunakan;
  • bagian penelitian yang melibatkan AI;
  • tujuan penggunaan; dan
  • cara penulis memverifikasi hasil AI.

Contoh:

Pernyataan Penggunaan AI: Penulis menggunakan [nama sistem AI] untuk membantu [tujuan penggunaan]. Seluruh keluaran telah diperiksa, diverifikasi, dan disunting oleh penulis. Penulis bertanggung jawab penuh atas seluruh isi artikel.

5. AI untuk Penyuntingan Bahasa

Penggunaan AI untuk:

  • koreksi tata bahasa;
  • pemeriksaan ejaan;
  • peningkatan keterbacaan; atau
  • penerjemahan

diperbolehkan sepanjang tidak mengubah substansi ilmiah, data, hasil, atau kesimpulan penelitian.

6. AI dalam Pengembangan Materi Pembelajaran

AI dapat digunakan untuk membantu pengembangan:

  • bahan ajar;
  • media pembelajaran;
  • soal atau instrumen;
  • aktivitas pembelajaran;
  • ilustrasi;
  • presentasi; atau
  • sumber belajar digital.

Namun, penulis harus memastikan bahwa materi yang dihasilkan:

  • akurat;
  • relevan dengan tujuan pembelajaran;
  • tidak mengandung informasi menyesatkan;
  • tidak melanggar hak cipta;
  • sesuai konteks peserta didik; dan
  • telah melalui evaluasi manusia.

Materi yang dihasilkan AI tidak boleh dianggap valid secara otomatis hanya karena dihasilkan oleh teknologi.

7. AI dalam Penelitian Pendidikan

Apabila AI digunakan untuk:

  • analisis hasil belajar;
  • analisis jawaban siswa;
  • analisis survei;
  • analisis wawancara;
  • klasifikasi data;
  • prediksi;
  • personalisasi pembelajaran; atau
  • evaluasi pendidikan,

penulis harus menjelaskan penggunaan AI secara memadai dalam metode penelitian.

Penjelasan sebaiknya mencakup:

  • alat atau model yang digunakan;
  • jenis data;
  • prosedur analisis;
  • metode verifikasi;
  • keterbatasan; dan
  • kemungkinan bias.

8. AI dan Data Anak atau Remaja

Penulis tidak diperkenankan memasukkan data pribadi atau sensitif anak dan remaja ke dalam layanan AI pihak ketiga tanpa perlindungan yang memadai.

Data yang perlu dilindungi meliputi:

  • nama siswa;
  • identitas pribadi;
  • hasil belajar individual;
  • informasi keluarga;
  • pengalaman pribadi;
  • foto;
  • rekaman suara atau video;
  • informasi keagamaan; dan
  • informasi sensitif lainnya.

Apabila memungkinkan, data harus dianonimkan atau dipseudonimkan sebelum digunakan dalam sistem AI.

9. AI dan Data Keagamaan

Dalam konteks Pendidikan Agama Kristen, data yang berkaitan dengan:

  • keyakinan;
  • pengalaman spiritual;
  • kehidupan gerejawi;
  • konseling;
  • pelayanan;
  • hubungan keluarga; atau
  • informasi jemaat

dapat bersifat sensitif.

Penggunaan data tersebut dalam sistem AI harus dilakukan secara hati-hati, dengan memperhatikan privasi, kerahasiaan, persetujuan, dan risiko terhadap partisipan.

10. AI dan Referensi

Penulis wajib memverifikasi setiap referensi yang diperoleh melalui AI.

Referensi harus:

  • benar-benar ada;
  • sesuai dengan sumber asli;
  • relevan;
  • dapat diverifikasi; dan
  • tidak dibuat atau direkayasa oleh sistem AI.

Referensi palsu atau tidak dapat diverifikasi merupakan tanggung jawab penulis.

11. AI dan Sumber Teologis

Apabila AI digunakan untuk membantu menjelaskan:

  • ayat Alkitab;
  • konsep teologis;
  • sejarah gereja;
  • doktrin;
  • tokoh Kristen; atau
  • materi keagamaan,

penulis tetap harus memverifikasi informasi menggunakan sumber akademik dan teologis yang dapat dipertanggungjawabkan.

AI tidak boleh diperlakukan sebagai sumber otoritatif menggantikan sumber ilmiah atau sumber primer yang relevan.

12. AI dan Gambar atau Visual

AI dapat digunakan untuk membantu membuat ilustrasi atau visual pendukung sepanjang penggunaannya tidak menyesatkan.

AI tidak boleh digunakan untuk:

  • memalsukan data visual;
  • menciptakan dokumentasi penelitian yang tidak pernah terjadi;
  • mengubah foto penelitian secara menyesatkan;
  • membuat bukti seolah-olah berasal dari aktivitas pembelajaran nyata; atau
  • menyamarkan informasi yang penting untuk interpretasi penelitian.

Apabila gambar berbasis AI digunakan secara signifikan, penggunaannya harus diungkapkan.

13. Larangan Penggunaan AI yang Tidak Etis

AI tidak boleh digunakan untuk:

  • membuat data palsu;
  • memalsukan hasil penelitian;
  • menghasilkan referensi fiktif;
  • membuat kutipan palsu;
  • melakukan plagiarisme;
  • menyembunyikan penggunaan karya pihak lain;
  • memanipulasi hasil penelitian;
  • menciptakan dokumentasi penelitian palsu; atau
  • menghindari proses pemeriksaan integritas akademik.

14. Penggunaan AI oleh Reviewer

Reviewer wajib menjaga kerahasiaan naskah.

Reviewer tidak diperkenankan mengunggah:

  • naskah;
  • data penelitian;
  • transkrip;
  • foto;
  • dokumentasi;
  • atau bagian substansial manuskrip

ke layanan AI eksternal apabila tindakan tersebut dapat menyebabkan pelanggaran kerahasiaan.

AI tidak boleh menggantikan penilaian ilmiah reviewer.

Reviewer tetap bertanggung jawab penuh terhadap komentar, evaluasi, dan rekomendasinya.

15. Penggunaan AI oleh Editor

Dewan Editorial dapat menggunakan AI untuk membantu kegiatan administratif atau teknis sepanjang tidak mengurangi kerahasiaan, independensi, dan integritas proses editorial.

Namun, keputusan seperti:

  • memilih reviewer;
  • menilai konflik kepentingan;
  • mengevaluasi kualitas naskah;
  • menerima artikel; atau
  • menolak artikel

tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada sistem AI.

Keputusan akhir harus tetap berada pada manusia, khususnya Editor in Chief dan/atau editor yang berwenang.

16. Bias dan Keterbatasan AI

Penulis harus menyadari bahwa AI dapat menghasilkan:

  • bias;
  • informasi yang tidak akurat;
  • interpretasi yang keliru;
  • generalisasi berlebihan;
  • atau hasil yang tidak sesuai dengan konteks sosial, budaya, pendidikan, dan keagamaan.

Karena itu, keluaran AI harus dianalisis secara kritis.

17. Dugaan Penyalahgunaan AI

Apabila ditemukan indikasi bahwa AI digunakan untuk melakukan:

  • fabrikasi;
  • falsifikasi;
  • plagiarisme;
  • referensi palsu;
  • manipulasi data;
  • manipulasi visual;
  • pelanggaran privasi; atau
  • bentuk pelanggaran akademik lainnya,

Dewan Editorial dapat meminta klarifikasi dan bukti pendukung.

Berdasarkan hasil evaluasi, GOLPAK dapat:

  • meminta revisi;
  • menolak naskah;
  • menghentikan proses editorial;
  • melakukan koreksi;
  • menerbitkan Expression of Concern;
  • mencabut artikel (retraction); atau
  • mengambil tindakan lain sesuai kebijakan jurnal.

18. Tanggung Jawab Akhir

Terlepas dari teknologi yang digunakan, penulis tetap bertanggung jawab penuh atas seluruh isi artikel.

Penggunaan AI tidak mengurangi kewajiban penulis untuk menjaga:

orisinalitas, akurasi, transparansi, perlindungan data, integritas ilmiah, serta kepatuhan terhadap etika penelitian dan publikasi.