Kepemimpinan Harun dalam Pentateukh: Pendampingan, Keterbatasan, dan Akuntabilitas dalam Kepemimpinan Gerejawi
Keywords:
Harun, kepemimpinan pendamping, keterbatasan pemimpin, akuntabilitas, kepemimpinan gerejawiAbstract
Konsentrasi otoritas pada satu figur dapat mempersempit partisipasi dan melemahkan mekanisme koreksi dalam gereja. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakterisasi Harun dalam Pentateukh melalui dimensi pendampingan, keterbatasan, dan akuntabilitas, serta merumuskan kontribusinya bagi kepemimpinan gerejawi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan analisis naratif dan pembacaan dekat atas Keluaran 4, 7, 17, 24, 28–29, dan 32; Imamat 8–10; serta Bilangan 12, 16–17, dan 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Harun menjalankan fungsi representatif, relasional, kolegial, dan imamiah, tetapi juga mengalami kegagalan, koreksi, konsekuensi, dan regenerasi. Peristiwa anak lembu emas, konflik dalam Bilangan 12, dan kegagalan di Meriba menegaskan bahwa legitimasi serta jabatan tidak menghapus keterbatasan pemimpin. Berdasarkan pola tersebut, penelitian merumuskan model kepemimpinan pendamping yang akuntabel dengan enam karakter, yaitu representatif, relasional, kolegial, imamiah, terbatas, dan akuntabel. Model ini mengkritik sentralisasi kepemimpinan gerejawi serta mendorong pembagian fungsi, evaluasi, dan suksesi yang bertanggung jawab.
References
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 GOLPAK: Jurnal Pendidikan Agama Kristen

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.